Manusia Dan Keindahan_Hassan Falih_50421596
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Setiap manusia dilahirkan dan dibekali dengan banyak sekali
keindahan. Keindahannya baik dari dalam, dari luar, maupun yang ada
disekitarnya. Kata keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai,
cantik, elok, molek dan sebagainya. Keidahan identik dengan kebenaran.
Keindahan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan.
Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan
mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran
berarti tidak indah. Keindahan juga bersifat universal, artinya tidak terikat
oleh selera perseorangan, waktu dan tempat, kedaerahan, selera mode, kedaerahan
atau lokal.
BAB
2
PEMBAHASAN
Pengertian Manusia Dan Kindahan
Manusia adalah
makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan orang lain, di suatu ruang lingkup
manusia adalah komponen paling penting yang saling berinteraksi terus menerus
sesuai dengan kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial, interaksi tersebut
dapat terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun
antara kelompok dengan kelompok.
Keindahan adalah
sifat-sifat yang merujuk kepada sesuatu yang indah di mana manusia
mengekspresikan perasaan indah tersebut melalui berbagai hal yang mengandung
unsur estetis yang dinilai secara umum oleh masyarakat. Keindahan sebagai suatu
kualitas abstrak (Beauty as anabstractquality)menggambarkan sesuatu yang
kontemporer dan bersifat nonrealistic di mana sang pencipta karya menggambarkan
sesuatu yang tidak bisa dimengerti secara umum dan tidak sesuai dengan realita.
Definisi Cinta
Keindahan adalah
susunan kualitas atau pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal kulitas yang
paling disebut adalah kesatuan (unity)
keselarasan (harmony) kesetangkupan (symmetry) keseimbangan (balance) dan pertentangan (contrast).
Herbet Read merumuskan bahwa keindahan adalah kesatuan dan hubungan-hubungan
bentuk yang terdapat diantara pencerapan-pencerapan indrawi manusia. Filsuf
abad pertengahan Thomas Amuinos mengatakan bahwa keindahan adalah sesuatu yang
menyenangkan bilamana dilihat.
Keindahan
terdapat pengertian yang luas yang dibedakan menjadi 3, yaitu :
1.
Keindahan dalam arti luas, menurut Aristoteles
keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan
2.
Keindahan dalam arti estetik murni, yaitu
pengalaman estetik seseorang dalam hubungan dengan segala sesuatu yang
diserapnya.
3.
Keindahan dalam arti terbatas, yaitu yang
menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan penglihatan yakni berupa
keindahan bentuk dan warna
Keindahan identik dengan kebenaran, keindahan adalah
kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama
yaitu abadi dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah yang tidak
mengandung kebenaran tidak indah.
Ada 2 nilai
yang penting dalam Keindahan :
1.
Nilai ekstrinsik yakni nilai yang sifatnya
sebagai alat atau membantu untuk sesuatu hal. Contohnya tarian yang disebut
halus dan kasar.
2.
Nilai intrinsik yakni sifat baik yang terkandung
di dalam atau apa yang merupakan tujuan dari sifat baik tersebut. Contohnya
pesan yang akan disampaikan dalam suatu tarian.
Ada 2 teori
keindahan, yaitu :
Teori keindahan
obyektif
Teori keindahan seni dengan pandangan obyektif
menitikberatkan keindahan dari bentuk seni itu sendiri. Teori ini digagas oleh
Plato dan juga Arsitoteles. Plato beranggapan bahwa keindahan seni adalah
obyektif dan bukan pengalaman dari pengamat.
Dilansir dari Lumen Learning, Aristoteles beranggapan bahwa
keindahan seni terletak pada ciri-ciri benda seni seperti kesimetrisan,
keteraturan, keseimbangan, dan proporsinya. Baik Plato dan Aristoteles
beranggapan bahwa keindahan benda seni terkandung pada benda itu sendiri, dan
bukan dari pikiran orang yang melihatnya. Maka teori obtektif beranggapan bahwa
keindahan datanng dari bentuk karya seni saja, sama sekali tidak ada sangkut
pautnya dengan pengamat yang melihatnya.
Teori keindahan subyektif
Teori keindahan subyektif adalah kebalikan dari teori
keindahan obyektif. Pandangan keindahan karya seni secara subyektif didukung
oleh David Hume dan Immanuel Kant. Menurut David Hume, keindahan seni tidak
terdapat pada benda melainkan pada perasaan dan emosi yang didapat saat
pengamat melihat karya seni tersebut. Dilansir dari Lumen Learning, Immanuel
Kant beranggapan bahwa proses penilaian keindahan seni berasal dari perasaan,
kognisi, dan logika orang yang melihat karya seni tersebut dan bukan dari
fitur-fitur yang dinilai indah secara obyektif. Teori keindahan subyektif
menitikberatkan keindahan seni pada orang yang melihatnya bukan pada bentuk yang dimiliki karya seni
tersebut. Baca juga: Aliran Seni Lukis dan Tokohnya Saat melihat karya seni,
orang akan beranggapan bagus, indah, sedih, senang, menakutkan, dan emosi
lainnya yang berbeda-beda sesuai dengan siapakah yang mengamatinya. Selain
bersifat subyektif (tergantung pada pengamat), teori subyektivitas juga
berkendala pada selera dan juga dimensi waktu. Setiap orang memiliki selera
yang berbeda, apa yang dilihat bagus oleh satu orang belum tentu dilihat bagus
oleh orang lainnya. Terlebih selera manusia berkembang mengikuti zaman, maka
waktu juga menentukan keindahan suatu karya. Sehingga penilaian subyektif harus
dilakukan oleh pengamat seni yang profesional.
BAB
3
KESIMPULAN
Manusia dapat membuat
keindahan untuk dirinya sendiri namun keindahan tidak terpikat perorangan,
waktu, tempat. Keindahan identik dengan kebenaran. Dan keindahan tersebut dapat
membuat manusia menjadi tenang namun terkadang manusia tidak menysukuri akan
keindahan yang telah diberikan ALLAH SWT terhadap dirinya.
DAFTAR
PUSTAKA
https://initulisanfatimah.wordpress.com/2012/11/30/kesimpulan-manusia-dan-keindahan/
https://www.kompas.com/skola/read/2021/04/15/142131369/teori-keindahan-dalam-seni-subyektif-dan-obyektif?page=all
http://nanisarahhapsari30.blogspot.com/2017/05/contoh-makalah-manusia-dan-keindahan.html
https://10menit.wordpress.com/tugas-kuliah/manusia-dan-keindahan/
http://shellydharma.blogspot.com/2016/10/hubungan-manusia-dengan-keindahan.html
Comments
Post a Comment