Kesusastraan_Hassan Falih_50421596
KESUSASTRAAN
BAB
1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pengertian
Kesusastraan Secara etimologi (menurut asal-usul kata) kesusastraan berarti
karangan yang indah. “sastra” (dari bahasa Sansekerta) artinya : tulisan,
karangan. Akan tetapi sekarang pengertian “Kesusastraan” berkembang melebihi
pengertian etimologi tersebut. Kata “Indah” amat luas maknanya. Tidak saja
menjangkau pengertian-pengertian lahiriah tapi terutama adalah
pengertian-pengertian yang bersifat rohaniah. Misalnya, bukankah pada wajah
yang jelak orang masih bisa menemukan hal-hal yang indah.
Sebuah
cipta sastra yang indah, bukanlah karena bahasanya yang beralun-alun dan penuh
irama. Ia harus dilihat secara keseluruhan: temanya, amanatnya dan strukturnya.
Pada nilai-nilai yang terkandung di dalam ciptasastra itu.
Ada
beberapa nilai yang harus dimiliki oleh sebuah ciptasastra. Nilai-nilai itu
adalah : Nilai-nilai estetika, nilai-nilai moral, dan nilai-nilai yang bersifat
konsepsionil. Ketiga nilai tersebut sesungguhnya tidak dapat dipisahkan sama
sekali. Sesuatu yang estetis adalah sesuatu yang memiliki nilai-nilai moral.
Tidak ada keindahan tanpa moral. Tapi apakah moral itu? Ia bukan hanya semacam
sopan santun ataupun etiket belaka. Ia adalah nilai yang berpangkal dari
nilai-nilai tentang kemanusiaan. Tentang nilai-nilai yang baik dan buruk yang
universil. Demikian juga tentang nilai-nilai yang bersifat konsepsionil itu.
Dasarnya adalah juga nilai tentang keindahan yang sekaligus merangkum nilai
tentang moral.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Sejarah Sastra
Untuk
memperjelas istilah, sejarah sastra perlu dibatasi untuk membedakan dengan
studi yang lain. Secara umum sejarah berarti peristiwa dan kejadian yang
benarbenar terjadi pada masa lampau (KBBI, 1999: 891). Peristiwa atau kejadian
yang benar-benar terjadi itu adalah fakta. Dengan kata lain sejarah sastra
mengkaji data berupa fakta-fakta sastra dengan dua media yaitu berupa fakta
tertulis dan fakta lisan. Fakta tertulis berasal dari mediamedia tulis seperti
surat kabar dan buku-buku sastra sedangkan fakta-fakta lisan berasal dari
pelaku atau sumber yang dekat dengan pelaku sastra. Sastra adalah karya estetis
imajinatif yang sulit untuk didefinisikan secara penuh.
B.
Pendekatan-Pendekatan Sejarah Sastra
1.Pendekatan
Tradisional
Sejarah
sastra dikembangkan terutama pada abad kesembilan belas. Pendekatan yang
digunakan beragam. Berikut beberapa pendekatan yang utama.
·
Pendekatan
yang mengacu pada sejarah umum
·
Pendekatan
yang mengacu pada karya dan atau tokoh besar sastra
·
Pendekatan
yang mengacu pada tema-tema karya sastra dan perkembangannya
·
Pendekatan
yang mengacu pada asal usul karya sastra
2.
Pendekatan Lain
a. Pendekatan Jenis sastra
Pendekatan ini mempertimbangkan hal-hal berikut.
·
Konsep
jenis sastra modern yang dinamik, yaitu bahwa karya sastra tidak hanya
mengikuti konvensi, tetapi juga sering merombaknya.
·
Fungsi
jenis sastra tertentu tidak hanya ditentukan oleh ciri-ciri intrinsiknya,
tetapi juga oleh kaitan atau pertentangan dengan jenis lain.
·
Hubungan
ambigu antara karya individual dan normanorma jenis sastra, yaitu hubungan
intertekstual karyakarya individual.
·
Sejarah
sastra selalu berkaitan dengan sejarah umum.
·
Penerimaan
(resepsi) sastra oleh masyarakat pembaca dari masa ke masa menentukan dinamikan
sejarah sastra (Teeuw, 1984: 311-329).
Jenis
Jenis Kesusastraan
A.
Kesusastraan Rakyat
Sastra
klasik periode pertama ini sering disebut kesusastraan zaman
animisme-dinamisme. Penamaan ini didasarkan pada kepercayaan yang dianut
masyarakat pada waktu itu. Mudah dipahami pula jika melihat zaman berikutnya,
yaitu zaman Hindu dan Islam yang dinamakan berdasarkan kepercayaan yang dianut
pada masa berikutnya. Penamaan ini kurang tepat jika ditinjau dari isi
kesusastraan pada zaman ini tidak semua mengandung nilai animisme-dinamisme. Hal
ini berbeda dengan zaman sesudahnya yang mengandung nilai-nilai ajaran Hindu
dan Islam. Dengan pertimbangan ini, kesusastraan zaman awal ini diberi nama
kesusastraan rakyat.
B.Kesusastraan
Hindu
Sastra
tertulis mulai dikenal pada kira-kira tahun 500an. Namun, tidak banyak
masyarakat yang mengenal tulisan pada waktu itu. Hanya golongan tertentu yang
mengenal tulisan, seperti raja-raja, pendeta, dan sejumlah kecil orang biasa
(Wirjosoedarmo, 1990: 34). Meskipun ada pengaruh Hindu dalam sastra Melayu lama
tetapi sastra Hindu tersebut ditulis pada saat setelah agama Islam masuk ke
Indonesia (1990: 35). Ini terbukti dalam sastra melayu yang ditulis dengan
huruf Arab Melayu atau jawi. Karya-karya masa ini disajikan sebagai berikut. 1.
Mahabarata 2. Ramayana 3. Pancatantra
C.
Kesusastraan Islam
Dalam
penyebutan sering disebut sastra Islam. Sastra Islam sebagai istilah bermakna
rancu sebab mungkin muncul pertanyaan adakah bagian sastra dalam Islam?
Jawabannya tentu saja tidak. Wirjosoedarmo menamakan sastra masa Islam yaitu
masa ketika Islam menjadi agama negara. Dengan sedikit berbeda, Liau Yock Fang
(1991) menamakan kesusastraan zaman Islam. Dua nama ini bisa dianggap sama,
yaitu sastra Indonesia (Melayu) yang dipengaruhi sastra yang dibawa oleh
penyebar agama Islam. Namun, kembali pada hakikat sistemnya sastra masa ini
bisa dikatakan sastra yang dipengaruhi sastra arab, misalnya syair melayu.
Pengaruh Islam bisa ditemukan dalam isi yang diceritakan. Seperti juga sastra
zaman hindu, hanya isinya yang dipengaruhi agama Hindu sedang bentuknya
diadaptasi dari sastra India, misalnya gurindam. Berdasarkan isinya inilah
sastra pada masa kerajaan Islam disebut kesusastraan zaman Islam.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesusastaraan
berasal dari kata sastra, Sastra juga merupakan kekayaan budaya yang dimiliki
Indonesia. Oleh karena itu kita harus terus mempelajari dan melestarikan agar
tidak hilang atau punah
Daftar
Pustaka
https://nesaci.com/pengertian-kesusastraan-dan-jenis-jenis-kesusastraan/
https://www.edudetik.com/2020/04/makalah-kesusastraan-indonesia-dan.html
Comments
Post a Comment